BUKA MULUT: Profesionalisme ala Mang Ihin

Close

 

Jangan Lupa

DAFTAR AGLOCO DI SINI!

Download Gratis!

FREE AGLOCO EBOOK di SINI!

August 13, 2006

Profesionalisme ala Mang Ihin

Temanku ini --saya katakan saja begitu, karena selama ini arti 'teman' sering dipersempit dengan mengartikannya hanya untuk mereka yang pendidikannya sama, tingkat kemakmurannya sama, dll-- adalah seorang tukang sampah. Namanya Mang Ihin. Jelas dia bukan bekas gubernur Jawa Barat yang juga suka dipanggil Mang Ihin.
 
Sejak tahun 80-an dia sudah jadi tukang sampah. Sampai sekarang juga masih begitu. Perawakannya kecil, pendek, kulitnya hitam, wajahnya agak mirip Ellyas Pical, petinju Indonesia tahun 80-an. Murah senyum, dan yang bikin aku angkat jempol, rajin.
 
Dulu, ketika aku masih rajin lari pagi, sering ketemu. Dia nyapu di kawasan tempat wisata, aku lari pagi. Dia terbiasa melakukan ritual bersih-bersih sampahnya sejak jam lima pagi. Dan itu dilakukannya tiap hari. Nggak ada libur, nggak ada cuti. Bener-bener tiap hari.
 
"Cape Mang?", tanyaku suatu kali.
"Kerja itu dimana-mana juga nggak ada yang nggak cape.. Lagian kalau nyapunya pagi-pagi gini kan sehat..dapet uang lagi."
 
Jawaban seperti ini kadang-kadang membuatku tercengang. Sederhana, namun jika diselami terasa seakan-akan menyindir. Mang Ihin tentu tidak sedikitpun bermaksud menyindir. Ia cuma mengatakan apa adanya, dan..benar. Kita kadang-kadang terlalu sibuk mengeluh, sehingga seringkali tidak sempat untuk bersyukur. Kerjaan numpuk, ngeluh. Nggak ada kerjaan jadi suntuk, ujung-ujungnya ya ngeluh juga. Padahal, kerja sambil ngeluh justru akan lebih cape, karena energi untuk melakukan pekerjaan harus dibagi dengan energi untuk mengeluh. Artinya energi yang dikeluarkan akan lebih besar dibanding jika kita melakukan pekerjaan tanpa mengeluh.
 
Yang membuatku kagum, hingga sekarang ia masih setia menekuni pekerjaan yang dimulainya sekitar 20 tahun yang lalu. Kerja, kerja, dan kerja. Itu saja. Dia tak peduli orang lain kadang-kadang menganggap pekerjaannya itu kelas rendahan. Dia nggak protes karena nggak ada libur, nggak ada tunjangan kesehatan, nggak ada asuransi dll. Bahkan kemungkinan besar dia sama sekali nggak tahu apa itu asuransi. Yang dia tahu hanyalah melakukan tugas yang diberikan dengan sebaik-baiknya.
 
Ketekunan itu membuahkan hasil. Dulu ia cuma bertugas membersihkan tempat parkir di kawasan wisata. Sekarang, ditambah dengan tugas mengangkut sampah-sampah dari pasar ke tempat pembuangan. Perubahan yang sederhana di mata orang lain. Tapi buat Mang Ihin, ini merupakan sebuah penghargaan atas profesionalismenya sebagai tukang sampah selama ini. Dan itu disyukurinya.
 
Ternyata bersikap profesional tidak selalu harus didahului dengan membaca buku-buku tentang profesionalisme. Di mata saya, Mang Ihin adalah seseorang yang menjadi profesional tanpa perlu memahami istilah profesionalisme itu sendiri.


Saatnya mendapatkan hak kita. Surfing dibayar. Referring temen juga dibayar. Daftar GRATIS! Di Agloco, nggak ada biaya tersembunyi. 100% GRATIS!!

0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home