BUKA MULUT: Smack Down, Makin Meresahkan Setelah Makan Korban!

Close

 

Jangan Lupa

DAFTAR AGLOCO DI SINI!

Download Gratis!

FREE AGLOCO EBOOK di SINI!

November 29, 2006

Smack Down, Makin Meresahkan Setelah Makan Korban!

Keresahan para orang tua atas tayangan-tayangan bertema kekerasan di televisi sudah lama terdengar. Kekhawatiran mereka muncul setelah melihat perubahan perilaku anak-anak mereka yang cenderung menyukai bahkan meniru adegan kekerasan yang mereka tonton. Salah satunya adalah program impor 'Smack Down'. Ini tercermin dari berbagai keluhan di Media Indonesia Online misalnya. Namun semua dianggap angin lalu, dan tidak mendapat tanggapan serius dari pihak yang ditohok.


Program Smack Down ini ternyata juga mengilhami orang untuk ikut menangguk untung dari popularitas tayangan berbahaya tersebut. Terbukti dengan beredarnya VCD bajakan yang membuat anak-anak bahkan bisa menontonnya kapan saja mereka mau. Ini tentu saja semakin mengkhawatirkan.

Belakangan, kekhawatiran itu ternyata menjadi kenyataan. Seperti dilansir Liputan 6.com, Reza, seorang siswa kelas 3 SD di desa Cingcin, Soreang, Jawa Barat, menjadi tumbal pertama. Ia diduga meninggal dunia akibat bergulat bebas ala Smack Down bersama teman-temannya.

Kisah menyedihkan ini baru terungkap setelah Reza bercerita pada orang tuanya bahwa dirinya telah di-smack down oleh tiga temannya di sebuah masjid. Tiga teman bocah berusia sembilan ini umurnya jauh di atas Reza. Akibatnya, korban menderita cedera di bagian tangan kiri. Tak lama usai mengisahkan deritanya, Reza akhirnya mengembuskan napas terakhir pada 16 November silam.

Tak lama berselang, pertandingan gulat bebas ala Amerika ini kembali memakan korban. Setelah Reza yang tewas di Bandung, Jawa Barat, korban berikutnya adalah Maryunani (9), siswa Sekolah Dasar (SD) Negeri Wates 4 Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta. Menurut Detiknews.com , Maryunani saat ini dirawat di RSUD Wates.

Melihat berbagai kasus yang muncul ke permukaan akibat tayangan tersebut, rasanya tidak ada alasan lagi bagi pihak Lativi untuk tetap menayangkan program tersebut, atau menunda-nunda penghentian penayangannya. Pemerintah, DPR, aparat penegak hukum dan segenap masyarakat harus bahu membahu melindungi anak-anak dari pengaruh tayangan-tayangan yang mengusung tema kekerasan, meski sesungguhnya ini sudah sangat terlambat.

Kenapa saya katakan terlambat? Karena keresahan di kalangan masyarakat sebenarnya sudah cukup lama muncul. Sayangnya tanggapan yang diperoleh sangat tidak memuaskan, dan program-program semacam itu jalan terus. Smack Down hanyalah pemicu, yang mengingatkan bahwa banyak pihak yang mengabaikan kepentingan orang banyak. Dan seharusnya ini menjadi pelajaran bagi kita semua, bahwa sejak saat ini, tidak ada kompromi lagi dengan tayangan-tayangan berbau kekerasan di televisi mana pun.

Korban sudah jatuh. Apakah kita harus menunggu jatuh korban lebih banyak? NO WAY!! Stop kekerasan saat ini juga, demi menyelamatkan anak-anak kita!

Tags: , ,


Saatnya mendapatkan hak kita. Surfing dibayar. Referring temen juga dibayar. Daftar GRATIS! Di Agloco, nggak ada biaya tersembunyi. 100% GRATIS!!

3 Comments:

At 11/29/2006 09:18:00 am, Anonymous luthfi said...

ini jadi tajuk (opini) di bbrp media koran di situsnya.
coba aja cek di opini.wordpress.com

 
At 11/30/2006 11:28:00 pm, Anonymous MT said...

mestinya tayangan begituan udah gak ada lagi di TV.
btw, kang Tata tinggal di Panjalu? wah, tgl 19 nov 06 kemarin saya bersama rombongan majalah Cahaya Sufi "main" ke sana.... seandainya tahu dari awal, mungkin saya bisa mampir untuk kenal lebih dekat dg kang Tata yang banyak bikin website informatif!
jabat erat!

 
At 12/01/2006 12:22:00 am, Anonymous Tata said...

Yah..namanya juga kepentingan bisnis..
Oh ya? Dlm rangka apakah? Ya nggak tentu juga, kadang di Bandung, tergantung mood..Tergantung kepentingan.. Tp 'rumah' saya memang di Panjalu..

 

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home