BUKA MULUT: Belajar Dari Orang Miskin

Close

 

Jangan Lupa

DAFTAR AGLOCO DI SINI!

Download Gratis!

FREE AGLOCO EBOOK di SINI!

January 13, 2007

Belajar Dari Orang Miskin

Konon semakin kaya seseorang, semakin pelitlah ia. Tidak selalu demikian memang, tapi begitulah kecenderungannya. Bagi seseorang dengan kekayaan ratusan milyar, memberikan 10 juta kepada orang lain tentu tidak akan membuatnya miskin. Makanya, tidak perlu silau jika pejabat misalnya, menyumbang satu dua juta rupiah dari kantong pribadi. Bagi orang kebanyakan, mungkin kurang lebih sama dengan mengeluarkan uang seratus dua ratus perak alias recehan.
 
Saya pribadi lebih terkesan dengan orang miskin yang di tengah serba kekurangan, masih mau menyisihkan rezekinya untuk menolong orang lain, tanpa pamrih. Maksud saya, jika orang kaya membantu orang lain, itu tak membutuhkan terlalu banyak pertimbangan dan perjuangan, karena hartanya juga banyak. Tapi bagi orang miskin, memberikan rezekinya untuk membantu orang lain, pastilah dilakukan setelah melalui perjuangan dan pergolakan batin yang hebat.
 
Tadi pagi, saya kebetulan ada di rumah. Nonton TV, pindah-pindah channel, tanpa sengaja menemukan sesuatu yang luar biasa. Di SCTV, pas sedang menayangkan reality show dengan nama program 'Tolooong'. Bukan program baru karena yang saya tonton kali ini pun kayaknya tayangan ulang. Tapi apa yang saya lihat benar-benar membuat saya tersentak, lalu merenung, dan akhirnya.. menangis sendirian!
 
Ceritanya ada seorang gadis berpenampilan lugu membawa-bawa map lusuh berisi lamaran. Skenarionya, si gadis ini mau melamar pekerjaan, tapi pas foto yang sudah disiapkannya hilang terjatuh, sementara uang yang dimilikinya tinggal seribu rupiah. Uang sejumlah itu tentu tidak akan cukup untuk ongkos mencetak foto. Maka dia harus mencari orang yang bersedia menolongnya memberikan uang untuk mencetak pas foto sebagai pelengkap persyaratan lamarannya.
 
Semua kejadian direkam dengan kamera tersembunyi (candid camera). Dari sekian banyak orang yang dimintai tolong, sebagian besar menolak. Saya menduga, pasti banyak alasannya. Ada yang takut ditipu, ada yang karena gadis tersebut terlihat lusuh dan (maaf) tidak cantik, dan lain-lain. Akhirnya terjadilah peristiwa yang mengharukan itu. Gadis tersebut menghampiri seorang ibu-ibu penjual makanan, dan minta tolong dengan gayanya yang lugu. Yang luar biasa, ibu tersebut tanpa banyak bicara, langsung bersedia menolongnya. Bahkan tanpa sungkan ia rela meninggalkan gerobak jualannya dan mengantar si gadis ke tempat tukang cetak foto dan membayarnya!
 
Bagi sebagian besar orang, jumlah yang dikeluarkan untuk cetak foto tentu tidak seberapa. Toh paling juga lima atau sepuluh ribu perak. Tapi buat ibu penjual makanan kecil-kecilan ini, uang sejumlah itu pasti sangat berarti, dan mungkin saja itu adalah jumlah uang yang harus dibawanya pulang ke rumah untuk makan sekeluarga. Inilah jihad, berperang di dalam hati, antara kepentingan pribadi, dengan kepeduliannya untuk membantu orang lain (yang kenal saja tidak) yang membutuhkan bantuannya. Inilah jihad melawan ego pribadi!
 
Sungguh, saya telah mendapatkan pelajaran yang sangat berharga hari ini. Dan demi Allah, saya sama sekali tidak menyesal telah menangis hari ini!
 


Saatnya mendapatkan hak kita. Surfing dibayar. Referring temen juga dibayar. Daftar GRATIS! Di Agloco, nggak ada biaya tersembunyi. 100% GRATIS!!

0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home