BUKA MULUT: Beli Buku atau Kesemutan!

Close

 

Jangan Lupa

DAFTAR AGLOCO DI SINI!

Download Gratis!

FREE AGLOCO EBOOK di SINI!

December 18, 2006

Beli Buku atau Kesemutan!

Meski masih ada anggapan bahwa manusia Indonesia secara umum belum menjadi masyarakat yang cinta, tapi toko buku selalu dipadati pengunjung. Paling tidak, hal itu terlihat di beberapa toko buku yang tergolong 'papan atas'. Selain itu, penerbit buku baru terus bermunculan, dan para pemain lama juga masih tetap bertahan, bahkan menangguk laba.
 
Artinya, adalah terlalu berlebihan ketika kita dengan gampangnya mengatakan bahwa minat baca orang Indonesia masih rendah. Kalau pun minat baca tersebut memang belum merata, ada hal lain yang memicu terjadinya hal itu: harga yang relatif mahal bagi kebanyakan orang. Makanya, agak gegabah juga ketika - misalnya - mengukur tingkat minat baca hanya dilihat dari angka penjualan buku. Toh ada kemungkinan bahwa mereka yang tidak membeli juga masih bisa membacanya dengan cara meminjam, menyewa, membeli buku bekas, atau membacanya di toko buku tanpa harus membeli.
 
Soal membaca di toko buku, ini bisa jadi cerita tersendiri. Di toko buku besar semacam Gramedia misalnya, orang bebas membaca buku selama apa pun. Syaratnya, Anda pasti tahu, tidak boleh jongkok, apalagi duduk, melainkan harus tetap berdiri. Begitu ada yang jongkok atau duduk, pak Satpam dengan sigapnya akan memberikan peringatan. Kita tentu mafhum akan maksud dari kebijakan ini: agar orang tidak betah baca di tempat, sehingga dengan terpaksa harus membeli kalau memang ngebet pengen baca buku tersebut. (Kapan-kapan saya mau usul, bagaimana kalau syarat baca di tempat ditambah dengan scott-jump tiap 5 menit sekali! Pasti lebih seru!)
 
Untuk yang punya duit, pasti nggak jadi masalah. Tapi untuk yang dompetnya cekak? Silakan baca lagi kalau masih kuat berdiri. Saya bahkan pernah 'memecahkan rekor' membaca sambil berdiri selama kurang lebih 4 jam, hanya untuk menyelesaikan satu buku yang kadung menarik perhatian saya, padahal - seperti biasa - saat itu nggak punya duit. Tamat juga akhirnya, cuma akibatnya pinggang jadi pegel-pegel, kaki kesemutan, dan sakit hati juga dengan penderitaan akibat perlakuan seperti itu. Yah, resiko orang terpinggirkan memang begitu. Jadi, nikmati sajalah, karena pilihannya hanya dua: Beli Buku atau Kesemutan!
 
Kenapa orang tidak membeli buku? Ini sebetulnya soal prioritas belaka. Dalam memenuhi kebutuhan, tentu selalu ada skala prioritas. Mana yang harus diutamakan, mana yang sekunder, dan seterusnya. Ketika untuk memenuhi kebutuhan utama (sandang, pangan) saja orang masih kesulitan, maka hal-hal di luar kebutuhan pokok, otomatis menjadi terabaikan. Dan jujur saja, justru hal seperti inilah yang dialami oleh sebagian besar penduduk Indonesia. Jadi, sekali lagi, bukan sekedar soal minat baca yang rendah.
 
Saya bisa mengatakan demikian, karena saya adalah salah satu dari mereka yang kurang beruntung itu. Minat baca ada, tetapi daya beli tekor. Cara mengatasinya? Ya itu, minjem buku temen, ke perpusatakaan, beli buku loakan, dan/atau baca di toko buku. Sayangnya, untuk tiga yang terakhir, sekarang agak susah juga buat saya. Sejak beberapa tahun belakangan ini saya harus pulang kampung, padahal sementara itu kita semua tahu bahwa berbagai kemudahan akses selama ini selalu dan hanya terkonsentrasi di kota besar. Jangan harap bisa mendapatkannya di kota kecil atau kampung. Tapi sudahlah, orang kecil biasanya paling kreatif dalam menyiasati kesulitan. Yang jelas, saya - dan mungkin juga banyak orang senasib - masih bisa baca buku.
 
Meski demikian, ini tetap saja tidak 'menggugurkan' kewajiban pemerintah untuk mencerdaskan warganya, meskipun kadang-kadang pemerintah ini memang aneh: Menuntut warganya untuk pinter, tetapi sarana yang menunjang ke arah itu tidak diperhatikan. Penyebaran perpustakaan hingga ke pelosok, harga buku yang murah, dll., adalah sebuah keharusan. Atau menuntut warganya untuk melek teknologi, tapi akses internet tetap mencekik leher. Mengajak rakyatnya untuk taat hukum, tapi para pejabatnya malah hobi melanggar hukum. Melarang korupsi, padahal melakukan korupsi. Mengimbau hidup hemat, sambil sekaligus memamerkan kemewahan.
 
Hm, negeri yang aneh!!


Saatnya mendapatkan hak kita. Surfing dibayar. Referring temen juga dibayar. Daftar GRATIS! Di Agloco, nggak ada biaya tersembunyi. 100% GRATIS!!

0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home