BUKA MULUT: Ngupil

Close

 

Jangan Lupa

DAFTAR AGLOCO DI SINI!

Download Gratis!

FREE AGLOCO EBOOK di SINI!

December 13, 2006

Ngupil

Aktivitas yang satu ini memang menyenangkan. Nikmat, membuat hidung kita bersih, namun anehnya dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Biasanya ketika sedang sendirian, atau di kamar mandi. Soalnya jika dilakukan di depan orang lain, kita bisa dicap sebagai tidak tahu etika, tidak sopan, dan membuat orang lain merasa jijik. Padahal di sisi lain, saya yakin semua orang juga suka - atau paling tidak - pernah melakukannya.
 
Ini adalah soal kultur. Soal pemahaman atas sesuatu yang jadi kesepakatan dalam masyarakat, dan ditanamkan sejak kecil. Dulu, waktu masih kecil, saya selalu dimarahi orang rumah jika ketahuan ngupil. Dan berkat didikan masa kecil itulah maka saat ini saya menganggap bahwa 'aktivitas menyenangkan' itu tidak sopan dan tidak boleh dipertontonkan di muka umum. Saya juga secara otomatis merasa jijik ketika orang ngupil di depan saya, sekaligus menganggapnya sebagai manusia yang tidak tahu sopan santun.
 
Mungkin sikap dan pemahaman saya tentang ngupil akan sangat berbeda, jika saya dibesarkan di tengah masyarakat yang menganggap ngupil adalah sebuah kegiatan yang terhormat, atau bahkan menunjukkan kepahlawanan misalnya. Bahkan mungkin saya akan secara demonstratif ngupil di depan gadis-gadis cantik, karena hal itu akan menaikkan gengsi dan daya tarik saya di mata mereka. Dan sebaliknya, para gadis juga akan ramai-ramai ngupil di mall, tempat nongkrong, atau tempat-tempat umum, agar mereka kelihatan lebih seksi.
 
Ini murni soal persepsi dan konvensi tidak tertulis di masyarakat, yang ditanamkan sejak usia dini, karena secara prinsip, ngupil bukanlah sebuah kejahatan. Ia hanya sebuah aktivitas tubuh yang terkait dengan soal membersihkan diri. Dilihat esensinya, apa bedanya ngupil dengan mandi atau bercukur? Dan persepsi seperti ini, belum berubah sejak saya anak-anak hingga sekarang.
 
Sayangnya, keajegan masyarakat dalam soal persepsi ini tidak selalu sama untuk hal-hal tertentu. Kalau ngupil masih dianggap jorok, tidak sopan dan menjijikan, lain halnya dengan korupsi, misalnya. Korupsi yang dulu dianggap sebagai sesuatu yang jahat, memalukan dan bahkan menjijikan, secara perlahan bergeser ke arah pemahaman baru. Koruptor di jaman sekarang terkesan lebih dihormati dan tidak lagi dipandang menjijikkan. Lihat saja di media. Mereka bahkan masih bisa tertawa dan bersikap seakan-akan tidak berdosa. Dan masyarakat masih bisa membungkuk hormat, apalagi jika pelaku korupsinya adalah tokoh masyarakat atau pejabat.
 
Padahal dilihat dari esensinya saja, ngupil jauh lebih terhormat ketimbang korupsi. Ngupil bertujuan membersihkan diri, korupsi jelas mengotorkan diri pelakunya. Ngupil tidak merugikan orang lain, sementara korupsi jelas-jelas merugikan banyak orang, bahkan negara. Ini jadi aneh, karena berbuat sesuatu yang merugikan banyak orang seharusnya atau idealnya dimusuhi dan mendapat sanksi moral, minimalnya berupa sikap tidak bersahabat. Lalu kenapa reaksi terhadap dua aktivitas ini justru bertolak belakang dengan prinsip keadilan?
 
Berkaca pada apa yang kita alami di masa kecil, agaknya pemahaman terhadap sesuatu memang harus ditanamkan sejak kecil. Memahami bahwa ngupil itu tidak sopan, bahwa sendawa itu memalukan jika dilakukan di depan umum, adalah hal-hal yang dipompakan ke dalam pemahaman kita sejak kecil. Sementara korupsi justru sebaliknya. Seringkali kita bahkan tidak sadar sudah menghalalkan korupsi kecil-kecilan dalam hidup kita. 'Berdamai' dengan polisi ketika ditilang, menelepon urusan pribadi dari kantor, melakukan aktivitas pribadi pada jam kerja, dan sebagainya. Padahal, jauh di lubuk hati yang paling dalam, kita mengakui bahwa hal itu salah.
 
Akibatnya, kita jadi enggan untuk menanamkan pemahaman kepada anak-anak kita bahwa perbuatan seperti itu salah, harus dihindari, memalukan, menjijikkan dan lain-lain, karena kita sendiri melakukannya. Maka, tidak seperti ngupil, korupsi kemungkinan besar dianggap hal yang biasa-biasa saja. Lambat laun ini sikap pribadi ini berkembang menjadi pemahaman dan sikap kolektif dari masyarakat kita. Tidak perlu malu, tidak perlu risih, tidak perlu takut untuk korupsi. Toh tidak ada sanksi moral apa pun dari masyarakat, sementara sanksi hukum pun terlihat ogah-ogahan menyambangi mereka.
 
Maka, saya ada usul yang mungkin menarik untuk menyadarkan kembali perlunya masyarakat memberikan sanksi moral kepada para koruptor. Jika orang masih menganggap koruptor lebih terhormat dari tukang ngupil, maka suruh saja para koruptor ini ngupil di Televisi secara live, dan biarkan masyarakat seluruh Indonesia mencacinya sebagai manusia jorok, tidak sopan dan menjijikkan. Siapa tahu kapok! Kapok korupsi? Belum tentu juga. Yang pasti, kapok ngupil di TV!
 
Tag:


Saatnya mendapatkan hak kita. Surfing dibayar. Referring temen juga dibayar. Daftar GRATIS! Di Agloco, nggak ada biaya tersembunyi. 100% GRATIS!!

0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home