BUKA MULUT: ANTRI DOONG!!

Close

 

Jangan Lupa

DAFTAR AGLOCO DI SINI!

Download Gratis!

FREE AGLOCO EBOOK di SINI!

August 19, 2006

ANTRI DOONG!!

Di Cimahi ada yang namanya Pasar Antri, walaupun belanja di situ ternyata nggak perlu antri. Dulu saya sering melihat sticker bertuliskan 'Antri Doong'  ditempel di mana-mana, di angkot, di mobil pribadi, bahkan di pintu-pintu rumah. Demikian juga di loket-loket pembayaran biasanya ada tulisan 'Harap Antri', 'Budayakan Antri', atau yang semacam itu.
 
Antri kurang lebih berarti menunggu giliran sesuai urutan, baik itu urutan kedatangan, urutan daftar, atau urutan berdasarkan kriteria yang telah disepakati. Kalau kita pergi ke dokter, biasanya diberi nomor urut, dan nanti akan dipanggil sesuai urutan pendaftaran. Kalau kita beli tiket bioskop, maka antrian biasanya berdasarkan pada kedatangan kita di tempat antri. Ketika macet, idealnya tidak ada kendaraan yang nyelip-nyelip, karena hal itu hanya memperburuk keadaan.
 
Kesabaran. Itu kunci yang harus dipegang teguh ketika berada dalam antrian. Pada saat menginginkan sesuatu sementara peminatnya banyak, maka menunggu di dalam antrian adalah sebuah resiko. Mau nggak mau kita harus sabar menunggu, agar tidak ada yang merasa dirugikan. Bayangkan misalnya ketika kita sudah antri selama satu jam, tiba-tiba ada orang yang baru datang dan langsung bisa dilayani lebih dahulu dibanding kita. Marah? Sebel? Pasti!!
 
Meski gampang diucapkan, ternyata budaya antri sangat sulit diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Selalu saja ada orang-orang yang memanfaatkan berbagai hal untuk menghindari antri demi kepentingannya sendiri. Dan ini jelas-jelas merugikan orang-orang yang antri secara sungguh-sungguh. Kenal dengan petugas, status sosial, uang/kekayaan, sok cantik, sok ganteng, dll, seringkali dimanfaatkan agar lolos dari antrian, dan tidak peduli bahwa tindakannya itu mendzalimi hak orang lain yang terampas.
 
Celakanya, orang seringkali mentolerir hal itu, sehingga pengeroposan budaya antri terus berlangsung. Ungkapan-ungkapan seperti:
"Ah, dia kan sodaranya Pak Anu"
"Wuih, cakep ya? Kalau sama dia sih aku rela diduluin."
"Dia yang punya PT Gituan kan? Dia pasti sibuk, jadi perlu buru-buru.."
... seringkali menjadi pembenar atas tindakan seseorang yang tidak mau antri.
 
Pernah kejadian, di sebuah resepsi pernikahan seorang anggota TNI, para tamu 'sipil' dihentikan antriannya, karena Kepala Staf Angkatan Darat tiba dan yang bersangkutan tidak mau antri dengan alasan 'banyak keperluan'. Kita tentu sangat maklum bahwa pejabat memiliki jadwal yang padat dan kesibukan yang luar biasa. Tapi apakah itu berarti bahwa orang lain yang bukan pejabat tidak boleh memiliki 'banyak keperluan' sehingga mereka harus mengalah padahal sudah lama antri?
 
Jika sikap-sikap semacam ini masih dipelihara, maka jangan pernah berharap budaya antri bisa terwujud. Apalagi jika perilaku 'melanggar' budaya antri dilakukan oleh para pejabat, yang seharusnya justru menjadi contoh bagi kita. Bukankah --diakui atau tidak-- kita memang masih menganut budaya patron, sehingga apa yang dilakukan oleh seseorang yang kita anggap panutan, maka itu jugalah yang kita lakukan?
 
Barangkali sudah saatnya kita berani mengucapkan 'Antri Doong!!', ketika ada orang yang berusaha mendahului antrian, siapa pun orangnya. Dengan begitu, mudah-mudahan kata-kata semacam 'Antri Doong!' tidak lagi hanya menjadi kata-kata mati yang tanpa makna.


Saatnya mendapatkan hak kita. Surfing dibayar. Referring temen juga dibayar. Daftar GRATIS! Di Agloco, nggak ada biaya tersembunyi. 100% GRATIS!!

0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home