BUKA MULUT: Bahaya Jajanan Anak-anak

Close

 

Jangan Lupa

DAFTAR AGLOCO DI SINI!

Download Gratis!

FREE AGLOCO EBOOK di SINI!

March 20, 2007

Bahaya Jajanan Anak-anak

Bahaya memang ada di mana-mana, mengancam kita sekeluarga dari berbagai arah. Bencana alam, kecelakaan transportasi, tindak kekerasan, pencurian, penjambretan dll. Ada yang memang tidak terhindarkan seperti bencana alam, tapi ada pula yang memang bisa dicegah seprti kecelakaan transportasi, tidak kekerasan dll, yang melibatkan manusia sebagai pelaku.

Pencegahannya tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada banyak pihak yang wajib terlibat, termasuk pemerintah sebagai regulator dan kita sendiri sebagai warga masyarakat. Pemerintah sebagai penyelenggara negara tentu memiliki kewajiban terbesar dengan memberlakukan berbagai aturan untuk melindungi warganya. Aturan yang tentu saja harus disertai dengan keseriusan dalam hal pelaksanaannya, dan bukan sekedar aturan di atas kertas.

Rasanya jika semua pihak sepakat untuk menjalankan semua aturan, segala kemungkinan terjadinya ancaman bahaya akan bisa dikurangi secara maksimal. Sayangnya, yang menjadi masalah adalah justru dalam pelaksanaannya ini, baik dari pihak pemerintah mau pun dari warga masyarakat. Sebagai contoh, kecelakaan transportasi udara seyogyanya bisa diminimalisir seandainya semua aturan yang ada - termasuk soal maintenance dan prosedur standar penerbangan - dipatuhi oleh operator penerbangan. Di sisi lain, aturan akan dipatuhi jika ada pengawasan yang ketat dari pemerintah mengenai hal itu. Dan ini juga berlaku untuk hal-hal lainnya.

Satu hal yang sering luput dari perhatian kita adalah soal beredar luasnya jajanan anak-anak yang menggunakan bahan pewarna berbahaya. Isu ini seolah-olah terkubur oleh maraknya isu-isu lain yang dianggap lebih penting. Padahal masalah penggunaan bahan pewarna berbahaya (biasanya pewarna tekstil) untuk makanan ini tidak kalah berbahayanya, terutama dalam jangka panjang.

Trans TV, kemarin mebahas masalah tersebut, lengkap dengan penelusuran serta wawancara dengan - antara lain - penjual sirup jajanan anak-anak yang terus terang mengaku menggunakan pewarna tekstil untuk pewarna sirup buatannya. Selain itu, untuk menghemat biaya produksi, yang bersangkutan juga menggunakan air mentah sebagai bahan baku, sehubungan dengan mahalnya harga minyak tanah yang biasa digunakan untuk memasak air.

Salahkah penjual sirup tersebut? Jelas. Tapi ada lagi yang lebih bersalah dalam hal ini: Pemerintah. Adalah menjadi kewajiban pemerintah untuk mendidik warganya agar memiliki kesadaran akan bahaya yang bisa ditimbulkan sebagai akibat dari tindakan-tindakan yang dilakukan oleh warganya. Mereka harus dibekali dengan pengetahuan yang cukup agar apa pun yang dilakukannya tidak membahayakan pihak lain. Dan itu pun belum cukup, jika tidak disertai dengan peningkatan kesejahteraan.

Orang yang terhimpit beban ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidup standar, tentunya agak susah untuk bisa berpikir sehat dan mempertimbangkan soal apakah tidakannya berbahaya atau tidak. Dalam kondisi seperti itu, yang menjadi pertimbangan utama tentu saja bagaimana ia bisa mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Praktik penggunaan pewarna tekstil untuk pewarna makanan ternyata beredar luas. Alasannya, secara ekonomis hal ini bisa menekan biaya produksi karena harga bahan pewarna tekstil lebih murah dibanding harga pewarna makanan. Dengan menekan biaya produksi, maka produknya bisa dijual dengan harga yang terjangkau oleh konsumennya yang sebagian besar adalah warga miskin. Jika harganya terjangkau, maka jualannya bisa laku sehingga si penjual ini bisa bertahan hidup.

Proses ini terus berulang, sementara konsumen juga terus menumpuk racun di dalam tubuhnya. Dan celakanya, yang jadi korban terutama adalah anak-anak. Mereka yang seharusnya dibesarkan dalam kondisi yang ideal, justru harus mengalami perlakuan mengerikan yang tidak seharusnya mereka dapatkan. Dan semua ini adalah kesalahan banyak pihak: pemerintah, masyarakat dll, yang membiarkan semua ini terjadi di hadapan mata. Harus ada upaya komprehensif untuk menghentikan semua itu.

Sementara menunggu tindakan nyata pemerintah yang malah sibuk dengan hal-hal yang tidak kita pahami, atau kebanyakan LSM yang juga sibuk dengan hal-hal yang bisa menghasilkan uang, anak-anak kita tetap harus diselamatkan. Ada beberapa hal yang perlu kita lakukan:
  1. Tanamkan pemahaman kepada anak-anak kita untuk tidak jajan sembarangan. Makanan yang dimasak di rumah tentu jauh lebih aman ketimbang jajanan yang kita tidak tahu proses pembuatannya seperti apa. Akan lebih baik jika anak-anak membawa bekal makanan/minuman sendiri dari rumah.

  2. Mengkampanyekan agar bersikap hati-hati terhadap makanan/jajanan di luar rumah. Makanan/minuman dengan warna yang mencolok sebaiknya dihindari, karena ada kemungkinan menggunakan pewarna yang bukan untuk makanan. Lakukan kampanye ini kepada anggota keluarga, saudara, dan orang-orang di sekitar Anda.

  3. Sekedar tambahan, 'junk food' yang digilai banyak orang di Indonesia, di negara asalnya justru sudah mulai ditinggalkan karena terbukti menimbulkan efek buruk terhadap kesehatan. Jadi, jangan alihkan anak-anak dari jajanan 'biasa' di sekitar kita ke junk food yang juga sama-sama berisiko membahayakan kesehatan.
Mudah-mudahan tulisan ini membuka kesadaran kita semua terhadap adanya bahaya yang mengancam keluarga kita. Jangan biarkan keluarga kita, anak-anak kita, menjadi korban.



Saatnya mendapatkan hak kita. Surfing dibayar. Referring temen juga dibayar. Daftar GRATIS! Di Agloco, nggak ada biaya tersembunyi. 100% GRATIS!!

0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home