BUKA MULUT: Soal Makanan dan Latah

Close

 

Jangan Lupa

DAFTAR AGLOCO DI SINI!

Download Gratis!

FREE AGLOCO EBOOK di SINI!

July 07, 2007

Soal Makanan dan Latah

Makanan. Ini adalah kebutuhan primer manusia yang tidak akan pernah bisa jadi kebutuhan sekunder. Semakin banyak jumlah manusia penghuni bumi ini, semakin besar pula kebutuhan manusia akan makanan. Itu sebabnya warung nasi, warteg, restoran, terus bermunculan.
 
Latah. Bahasa Sundanya: gehgeran. Orang latah pasti sering Anda jumpai. Kalau dulu kebiasaan latah ini sering dianggap memalukan, sekarang justru dijadikan komoditas yang menghasilkan uang. Lihatlah, betapa banyaknya artis yang justru dieksploitasi kelatahannya, dan itu menghasilkan jumlah uang yang 'wah'.
 
Lalu, aadakah hubungan antara makanan dan latah? Saya bisa dengan tegas menjawab: Ada! Dalam keseharian mungkin nggak ada hubungan langsung, meskipun kalau dicari-cari sih bisa saja. Misalnya, orang latah yang lagi makan, terus dikagetin, maka akan keluar latahnya. Tapi bukan itu maksud saya.
 
Kalau Anda nonton TV sekarang ini, nyaris di semua stasiun TV ada acara yang membahas soal makanan. Penyajiannya tentu tidak persis sama, tapi intinya tetap sama: soal makanan. Acara yang dulu hanya ditayangkan satu dua stasiun TV, kini bisa Anda temui di banyak channel.
 
Ada yang kerjanya cicip mencicip makanan di berbagai tempat, ada yang menyajikan cara pembuatan makanan, ada yang berburu tempat jualan makanan yang aneh-aneh, dll. Sebagian orang mungkin berpendapat bahwa ini justru bagus, karena dengan sajian yang variatif, orang bisa bebas memilih. Setuju untuk soal itu, tapi kok rasanya ini sudah kebanyakan ya...
 
Terlepas dari soal banyaknya stasiun televisi yang menayangkan ikhwal isi perut, ada dugaan bahwa ini adalah salah satu cermin dari kelatahan stasiun-stasiun TV yang ada di Indonesia. Ketika sebuah stasiun TV sukses (baca: menghasilkan uang) dengan program kuliner atau apa pun namanya, maka hampir bisa dipastikan stasiun TV lain akan rame-rame mengekor, tentu dengan sedikit sentuhan dalam penyajian dengan maksud untuk membedakan dari program yang ditirunya.
 
Celakanya, sentuhan dengan maksud membuat perbedaan ini seringkali tidak berhasil. Akibatnya, muncullah sekian banyak program TV yang seragam, yang perbedaannya hanya soal nama dan jam tayang. Membosankan? Ya! Betapa tidak. Dalam sehari, kadang-kadang kita disuguhi acara yang berkaitan dengan isi perut ini sampai tiga kali.
 
Ini ternyata juga berlaku untuk program-program lainnya. Berita kriminal misalnya. Saat ini hampir setiap stasiun TV punya program berita khusus kriminal. Acara yang sering dianggap sebagai konsumsi kelas menengah bawah ini dipercaya bisa mengeruk keuntungan besar, sehingga semua seperti berlomba membuat acara sejenis.
 
Kontes nyanyi juga menjadi acara yang rame-rame ditayangkan di banyak stasiun TV. Mulai dari yang mendekati kontes nyanyi beneran (lumayan enak didengar), sampai ke kontes nyanyi yang pesertanya selebritas non-penyanyi yang menyebalkan (nggak ada bagus-bagusnya, jual tampang doang).
 
Laiknya manusia, kelatahan stasiun-stasiun TV ini seolah sudah sampai pada tahap kronis dan sulit disembuhkan. Padahal masalah yang sesungguhnya adalah tidak adanya keinginan untuk sembuh. Kenyamanan berada dalam kondisi status quo (dalam hal rating, perolehan iklan dll.) menyebabkan kreatifitas menjadi mandul. Siapa yang jadi korban? Seperti biasa, kita-kita juga: penonton.
 
Kita (penonton) akhirnya disuguhi makanan rohani berupa tayangan-tayangan yang nyaris seragam dan seringkali tuna gizi. Channel alias saluran boleh berpindah-pindah, tapi menunya ya itu-itu juga. Kenyang, tapi tidak sehat, dan malah mungkin bisa bikin sakit.
 
Nasib!
 
Tags:, ,
Generated by bukamulut


Saatnya mendapatkan hak kita. Surfing dibayar. Referring temen juga dibayar. Daftar GRATIS! Di Agloco, nggak ada biaya tersembunyi. 100% GRATIS!!

0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home